AQIQAH Untuk ORANG Berusia

Aqiqah Sehabis Berusia AQIQAH Untuk ORANG Berusia Oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman Persoalan Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman ditanya: Hadits bahwasanya Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya sehabis diutus selaku Nabi dikatakan oleh Nawawi[1] kalau hadits tersebut munkar sebab kesendirian Abdullah bin Muharrar.

Gimana pendapat syaikh tentang perkataan itu? Jawaban Perkataan Nawawi sudah didahului tadinya oleh perkataan Ibnu Abi Hatim dalam‘ Ilal Hadits. Hingga selayaknya seorang buat menyandarkan kepada sumber aslinya. Statment kalau hadits ini munkar merupakan perkataan Ibnu Abi Hatim dalam‘ Ilal Hadits menukil dari Abu Zur’ ah ar- Razi, bukan dari bapaknya Hukum Akikah Kala Dewasa .

Syaikh kami sudah menjawab perkataan ini dalam Silsilah as- Shahihah 6/ 502- 506 nomor. 2726 serta dia menshahihkan hadits ini. Oleh sebab itu, aku kemarin berkata tentang hadits ini:“ Dishahihkan oleh sebagian pakar hadits”. Seperti itu yang aku katakan serta aku ketahui persis perbandingan komentar di golongan ulama tentang keabsahan serta kelemahannya sekalipun hati aku lebih cenderung buat berkata kalau hadits ini hasan. Buat lebih detailnya bisa ditilik Silsilah as- Shahihah juz 6 perihal. 502- 506. Persoalan. Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman ditanya: Bolehkah untuk seorang yang belum mengaqiqahi dirinya buat melaksanakannya tatkala telah berusia serta gimana komentar syaikh terhadap orang yang membid’ ahkannya? Jual kambing aqiqah Jakarta bekasi

Jawaban Kita tidak mengatakannya bid’ ah. Sebagian pakar ilmu sudah mengamalkannya[2]. Aqiqah untuk orang berusia boleh bersumber pada hadits diatas. Serta kapan saja terjalin perbandingan komentar diantara pakar hadits lebih- lebih dalam masalah- masalah rumit semacam ini, sebaiknya penuntut ilmu buat menghargai perselisihan komentar. Sehingga ia bisa menguasai kapan ia mengingkari serta kapan ia mangulas.

Ialah bencana saat ini ini–terutama pemuda dakwah salafiyah- mereka tidak mendalami ilmu syar’ i, namun mau menghukumi masalah- masalah rumit semacam ini yang belum terdapat penjelasan yang jelas dari para ulama salaf. Jadi, perdalamlah ilmu syar’ i terlebih dulu serta jangan sibukkan dengan masalah- masalah rumit semacam ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *